Kearifan Lokal, Ribuan Orang Hadiri Grebeg Sadranan di Cepogo Boyolali

10 Feb 2025
10:11:23 WIB

Ribuan warga Kecamatan Cepogo, Boyolali, berkumpul di Alun-alun Pancasila untuk mengikuti tradisi tahunan Grebeg Sadranan yang digelar setiap menjelang Ramadan, Minggu (9/2/2025). Acara itu menjadi ajang pemersatu warga dari 15 desa di kecamatan tersebut.

Grebeg Sadranan diawali dengan kirab ratusan warga berpakaian tradisional mengarak gunungan, tumpeng, dan tenongan dari sebelah timur sisi selatan dan utara menuju Alun-alun PancasilaBoyolali sekitar pukul 08.20 WIB.

Mereka berangkat dari rumah tokoh warga setempat lalu berjalan sekitar satu kilometer dan terpecah datang dari sisi kanan-kiri. Terlihat gunungan berisi sayur mayur, jajanan pasar, palawija, apam, dan lain-lain. Ribuan pengunjung yang memadati sekitar Alun-alun Pancasila ikut berdoa dan zikir tahlil.

Setelah zikir tahlil selesai, mereka langsung menyerbu makanan yang ada sambil membawa plastik. Sebagian dimakan di lokasi dengan piring dari daun pisang atau kertas minyak, sebagian lagi dibawa pulang.

Ketua Panitia Grebeg Sadranan, Cepogo, Boyolali, Mawardi, mengatakan masyarakat berebut gunungan dan tenongan karena mempercayai makanan yang didoakan membawa berkah.

“Jadi semacam ngalap berkah, mengharapkan keberkahan dari apa yang dilaksanakan di Grebeg Sadranan,” kata pria yang akrab disapa Dipo tersebut seusai acara.

Ia mengatakan Grebeg Sadranan adalah tradisi warga Kecamatan Cepogo, Boyolali, setiap tahunnya menjelang Ramadan. Acara Grebeg Sadranan diikuti perwakilan dari 15 desa di kecamatan tersebut.

“Biasanya setelah tanggal 10 ke atas [Bulan Ruwah], ada kegiatan Sadranan. Sehingga paguyuban kepala desa dan Pemerintah Kecamatan Cepogo mengadakan kegiatan Grebeg Sadranan untuk tanda dimulainya tradisi sadranan. Grebeg Sadranan digelar pada 10 ruwah,” kata dia.

Dipo mengatakan setelah grebeg pada Minggu, setiap kampung di Cepogo bakal menggelar sadranan dengan diawali bersih-bersih makam. Lalu, sedekah, tahlilan, doa, dan diakhiri silaturahmi dari rumah ke rumah. Jadwal sadranan juga bergiliran dimulai 12-25 Februari 2025 di tiap-tiap kampung.

“Acara sadranan dibagi-bagi [dijadwal] agar mereka bisa saling bersilaturahmi. Acara sadranan saat ini sudah lebih banyak ke acara silaturahminya. Jadi tidak hanya berdoa ke makam,” kata dia.

Selanjutnya Dipo mengatakan gunungan dan tenongan yang dibawa adalah wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia menyebut awalnya direncanakan ada sekitar 400 tenongan yang dikirab, akan tetapi karena antusiasme masyarakat sangat tinggi, Mawardi mengatakan ada lebih dari 500 tenongan yang dibawa.

Tenongan adalah wadah makanan yang awalnya terbuat dari anyaman bambu dengan diameter sekitar 80 cm dan tinggi 50 cm. Saat ini tenongan sudah dibuat dari alumunium. Tenongan dibawa oleh pria dan disunggi di kepala.

Sementara itu, salah satu warga asal Gumpang, Kartasura, Masitoh, mengaku sengaja datang jauh-jauh ke Cepogo, Boyolali, untuk melihat Grebeg Sadranan. Ia mengaku juga biasanya datang ke tempat-tempat yang membagikan makanan gratis yang telah didoakan.

Ia membawa plastik bening besar dan mengambil sebagian nasi dari tumpeng yang sudah didoakan. “Saya ambilnya nasi saja, biasanya ya hanya untuk dimakan. Soalnya saya percaya barang yang sudah mendengar doa-doa baik ya bisa membawa kebaikan. Untuk lauk, paling saya makan yang di sini saja,” kata dia.

Sekda Boyolali, Wiwis Trisiwi Handayani, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi Pemerintah Kecamatan Cepogo bersama Paguyuban Kepala Desa se-Cepogo yang telah menyelenggarakan Grebeg Sadranan.

Wiwis mengingat Grebeg Sadranan digelar pertama pada 2019 di jalan Solo-Selo-Borobudur sampai kantor kecamatan. "Ini adalah tradisi budaya lokal di lereng Gunung Merapi, khususnya Cepogo. Jadi di sini ada 15 desa yang dalam partisipasinya mereka bergotong royong menyelenggarakan. Ini tidak ada satu rupiah pun dari Pemkab,” kata dia.

Wiwis juga mengatakan animo masyarakat luar biasa. Pengunjung banyak yang dari luar Cepogo. Menurutnya, adanya Sadranan di Cepogo bakal membawa efek multiplier ke masyarakatnya baik dari sisi pariwisata dan ekonomi.

“Bagaimana nanti grebeg ini bisa menjadi salah satu destinasi budaya. Berpikir tentang pariwisata, maka akan membawa multiplier effects bagi masyarakat Cepogo dan Boyolali. Ke depan, acara ini akan terstruktur dan dikelola dengan baik,” kata dia. 

Video Terkait:

Tag

Share



0 Komentar

    Form Komentar

    Video Terpopuler

    ✔️✔️ Tidak hanya memiliki wisata alam,

    Tag Cloud


    Agenda

    Agenda Rapat Tahun Ajaran Baru

    'Agenda Rapat Sekolah Pada Tahun Ajaran Yang Baru. Bapak/ ibu dimanapun anda ...'

    Artikel Terpopuler

    Microsoft Excel menjadi salah satu aplikasi office yang paling banyak

    Berita Terpopuler

    ✔️✔️ Tidak hanya memiliki wisata alam,
    Sebanyak 29 SMP negeri di Boyolali dipersilakan

    Facebook Fanpage

    Banner

    Google Search